Selasa, 24 Mei 2011

wajah kegelapan

wahai wajah para pendosa
wahai orang-orang yang haus kekuasaan
mendekatlah cepat padaku
akan ku beri semua yang kau mau
aku ada saat kau butuh
kemarilah wahai pemuja setan
kemarilah wahai penyembah kekuasaan
aku selalu ada didekatmu
wajah kegelapan
aku ada dihatimu
akan ku hamburkan semua emas permata untukmu
akan kuhirup semua bau surga ditubuhmu
dan akan ku sebar panas neraka
tenang-tenanglah akan aku janjikan
sejuta keindahan
akan kuberikan seribu kebahagiaan dunia padamu
sudah-sudah jangan ragukan lagi
terima tawaranku atau kau akan menyesal
akan ku taburkan benih cinta dihatimu
cinta buta bernafas maksiat
datanglah padaku
akulah sang penguasa kegelapan
cepat-cepat datang karena aku akan pergi
aku akan menemanimu saat kau gundah
aku akan menemanimu saat kau gelisah
mendekatlah padaku
akan ku bawa kau ke meja penjanji kekayaan
minumlah.. minumlah minuman surga itu
makanlah.. makanlah makanan lezat itu
kau akan tenang bersamaku didunia
wahai pemuja harta.
muthmainnah, indralaya 25 mei 2011

Aku Mati

AKU MATI

Masih dalam gelap
Titik cahaya itu telah memudar
Kembali dalam ketakutan
Kembali dalam kegelisahan
Kembali dalam kegundahan
Tetap sunyi, masih tak ada celah untuk bernafas
Aku hidup tapi jiwaku telah MATI
Aku masih tetap meraba
Masih tetap menjamah
Kabut semakin kabut
Pandangan masih tak terarah
Berjalan masih tetap sempoyongan
Aku darahku sudah terhisap oleh masa
Aku masih tak berdaya
Tetap kaku dalam naungan kasih sayang
Aku MATI
Dalam indahya kebersamaan
Aku MATI
Dalam terangnya hari
Aku MATI
Dalam gelaknya tawa menyapa
Dan aku MATI
muthmainnah indralaya 25 mei 2011

sepi

Lama sudah ku menanti dirimu
Lama sudah ku memendam cintaku
Aku terus bersembunyi dalam kungkungan
Aturan yang tak boleh kulanggar
Akupun harus mematuhi itu
Aku harus bersabar sampai waktunya tiba
Tapi aku tak tau sampai kapan
Sudah banyak cara aku melepaskan
Semua rasa yang terlanjur terpendam
Namun semua terasa sia-sia
Kini aku hanya berharap
Apapun yang terjadi
Aku serahkan padaMU
YA ROBB
Muthmainnah, minggu 22 mei 2011 0820 palembang

cURAHAN kekecewaan

Curahan kekecewaan

ketika ada yang mengaku “aku sahabatmu, aku ada untukmu saat sedih dan suka” namun terkadang kata itu tak beriring dengan kelakuan. Aku adalah orang yang mudah percaya dan selalu berharap ketika ada yang mengatakan “aku sahabatmu”. Pernah terlintas “sahabat itu hanya ada dalam sinetron, gak ada didunia nyata”. Aku tahu pemikiran ini sangat salah. Namun aku berada pada realita yang seperti itu. Mengaku sahabat tetapi suka membicarakan dari belakang. Satu saja mauku katakan jika tidak suka, katakan jika benci, katakan saja. Sepahit apapun kejujuran, ya harus dikatakan jika ingin ada kebaikan tanpa menyinggung perasaan orang lain. Aku diam bukan berarti aku tidak tahu, aku diam bukan berarti aku tak peduli. Aku tahu pikiran seorang yang sedang memendam. Aku tahu siapa yang tidak suka padaku. Aku tahu orang yang berbohong. Aku tahu semua. Wajahmu, ekspresimu. Katakana saja. Satu hal lagi yang sering aku katakan, “lebih baik aku sendiri daripada banyak orang disisi tapi bisanya hanya membuat risih”.
Benar kata orang “ jangan mencari teman yang membuatmu nyaman, tapi carilah teman yang mampu membuatmu berpacu dalam semangat”. Aku selalu salah, aku selalu mencari teman yang membuatku nyaman tapi pada akhirnya aku risih, dan selalu berprasangka. Dan aku rasakan perbedaan ketika aku berteman dengan seorang yang selalu memaksaku bergerak, tetapi pada akhirnya mereka membuatku nyaman dan tau apa yang harus aku lakukan.
Tulisan ini adalah gambaran kekecewaan ku yang berulang terhadap sahabat-sahabatku. Yang kupikir mereka adalah sahabat yang baik tapi nyatanya mereka sangat suka menghujamku, membicarakanku dari belakang. Mereka selalu berisyarat aku benci mereka. Saat ku sedih mereka menjauh seolah ingin membuatku tenang. Tetapi disisi lain aku menyayangi mereka. Tetapi mereka tak pernah memahami karakterku, mereka tak pernah mau mengerti mereka tak pernah mau memahamiku.
Mereka itu membenci aku, aku tau itu, mereka itu tak ikhlas menganggapku sebagai sahabat aku tau itu. Jika tidak mengapa mereka selalu menjelek jelekanku. Aku rela jika aku dibuang, aku pun rela jika aku tersisih. Aku rela jika aku harus menjauh. Tak apa jika aku harus menyendiri lagi. Tidak masalah. Jika mereka tak suka aku yang penting aku suka duniaku. Its my world,

REALITA

Masih dalam diam
Masih dalam aturan
Masih di wilayah hokum
Masih dalam ideology
Panca, dasar…
Dan segala masa yang tercipta
Mulai dari masa
Penjajahan
proklamasi
Orde lama
Orde baru
Sampai reformasi
Masih terkungkung dalam kemiskinan
Kemiskinan yang tetap dalam wilayah “ESTETIKA” kata mereka
Tak pernah ada yang mengukir sejarah sempurna
350+3,5= bobrok
Orde lama+orde baru= kekuasaan feodal, korupsi merajalela
Reformasi = penerus kebodohan
Tetap ada kekuasaan yang EGOIS
Tetap pada kekuasaan yang RAKUS
Pemuda, sang tua terlepas dari berpendidikan atau tidak
Terlepas dari pemegang kekuasaan atau bukan
Mereka tetap bungkam,
Mereka hanya berKOAR
Mereka dan mereka
Hanya DIRI SENDIRI yang mereka pikirkan.
Mengaku PEDULI tapi teta[ pada KE ACUHANNYA
Inilah negriku yang KAYA akan KEBOBROKAN.
PALEMBANG, MUTHMAINNAH 22 MEI 2011 0950

PITA TINTAMU

Semua kan berakhir jika kau tetap membisu kawan
Hari ini adalah waktunya kau bergerak
Kau adalah penerus bangsa sahabat
1 karyamu adalah 1000 kreativitas bagi negrimu
1 pemikiranmu adalah penerang cahaya kegelapan bangsamu
Wahai pemuda Indonesia
Janganlah engkau pasif dalam kebekuan pergolakan
Janganlah engkau bisu dalam teriakan masa
Wahai pemuda Indonesia
Jika kau tak mau aksi di jalan raya
Jika kau tak mampu mengungkap rasa
Setidaknya kau mampu beraksi dalam sebuah karya
Jika kau tak bisa mengeluarkan semua dengan teriakan
Maka keluarkanlah keluh kesahmu
Dengan menggoreskan tinta di sebuah kertas
Wahai pemuda,..
Percayalah tinta dan pita memiliki hubungan yg erat
Dalam meng_aspirasikan pemikiranmu
Dalam meng_aspirasikan keinginanmu
Tinta penamu juga pita suaramu
Adalah bambu runcing kemerdekaan.

Muthmainnah, Palembang 22 mei 2011 0735