"timang-timang anakku sayang..." lagu ini adalah lagu yang selalu ibu nyanyikan untukku. ibu adalah seorang wanita terbaik yang ada dihidupku. "anakku jika kau besar nanti jadilah anak yang berbakti kepada orang tua" ayah selalu memberika pesan seperti itu, agar aku menjadi yang terbaik. ayah adalah pria terhebat dalam hidupku
****************************************************
sejak kecil aku selalu di manjakan dengan fasilitas mewah. ayah dan ibuku selalu berusaha memberikan ku yang terbaik. ayah adalah orang sibuk berkerja,.. begitu juga ibu. tetapi sesibuk-sibuk mereka, mereka selalu menyempatkan waktunya untukku. ayah juga selalu menemaniku bermain bola.
"ayo yudi... kasih bola nya ke ayah,.."
"plluuukkk..."
"aahhhhh... " tendangan ku ternyata begitu kuat, sampai-sampai ayah jatuh dan pingsan
"ibu.........................." aku panggil ibu sekencang-kencangnya
" ada apa yudhi..." begitu lemmbbuut suara ibu
"ibu.. ayah.. "
"kenapa... oh tuhan"
ibu kaget, lalu ibu menjoba memeriksa hidung ayah
"bagaimana bu..'
"ayahmu hanya pingsan nak"
"pingsan tu apa bu?"
"dddaaaarrrrrr"
belum sempat ibu menjawab, ayah bangun dan mengagetkan kami berdua
"hhaaaa,.. panik ya.. ayah hanya bercanda sayang"
"ayah....." aku marah dengan ayah, kesal.
" sudah,,, sudah iby sudah masak ayo kita makan"
ibu adalah koki terhebat, tidak ada yang bisa mengalahkan masakan ibu. wajar jika ayah sangat mencintai ibu.
setiap malam ibu selalu menyanyikan aku lagu "timang-timang", sebagai pengantar tidur, mengelus-elus kepalaku, ayahku selalu menjagaku, dan menciumi pipiku. aku selalu tertidur pulas di tengah-tengah ayah dan ibu. begitu hangat pelukan mereka.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
kejadian buruk menimpa keluargaku. ayah bangkrut karena ditipu. semua barang kami disita. kami sudah tak punya apa-apa lagi. umurku saat itu baru 17 tahun. kami tinggal dirumah sederhana itupun rumah peninggalan nenek yang sudah lama tidak dihuni.
ayah kini telah berubah begitupun ibu. kehidupan kami kauh berubah 180 derajat. ayah kini tak seceria dulu, wajahnya kusam, dan ia sering melamun. ibu sering sakit-sakitan. aku sungguh sedih, pagi kini tak semeriah dulu,.. ibu tak suka lagi memasak, ayah sontak menjadi pendiam.
sedangkan aku, hanya menjadi penonton, dan aku seperti orang bodoh. aku selalu berusaha membuat mereka kembali seperti dulu, namun aku seperti berbicra dengan patung.
aku sedih, aku tak tahu harus berbuat apa.
kini ayah tak lagi pergi memakai dasi. ayah bekerja sebagai kuli panggul, buruh kasar. sungguh aku sedih melihat ayah kini punggungnya tak segagah dulu.
masakan ibu tak se enak dulu, dulu sesederhanapun masakan ibu, tempe goreng saja seperti rasa steak. tapi sekarang rasa itu telah berkurang.
*********************
"ibu bagaimana dengan yudhi, aku selalu memikirkan dia, bagaimana dengan sekolahnya bu, jika ayah selalu bekerja seperti ini..."
" ibu tak tahu,.. aku selalu tak tega melihat wajahnya, aku sudah dipecat dari tempat bekerjaku, akupun tak bisa membantumu maafkan aku, kau harus menanggung semua sendiri"
ayah dan ibu menangis, aku masuk dan menyambung pembicaraan mereka
"ayah.. ibu.. tak usah khawatirkan aku, aku sudah besar, tadi aku dipanggil kepala sekolah, dan aku mendapat beasiswa, aku tak tahu siapa yang memberiku beasiswa, jadi kalian tak usah khawatirkan aku"
ayah dan ibu memelukku, dan meminta maaf kepadaku, sungguh aku tak tega, begitu besar cinta mereka, bukan harta yang mereka pikirkan tetapi aku, aku anaknya.
_____________
malam semakin larut, bintang tak lagi seterang dulu, begitupun rembulan tak lagi mampu menyinari hati kami yang gelap.
"oohh tuhan,.. begitu berat cobaan mu tuhan, ayah dan ibu kini tak seceria dulu, tuhan bukan kemewahan harta tetapi kemewahan kasih sayang mereka tuhan, kembalikan lagi senyum mereka, hanya kau yang mampu melakukan itu,.. hmm.... tu...."
"yudhi........... ayahmu nak"' ibu teriak memanggiku
"ad apa bu..." ku lihat ibu menangis, wajah ayah begitu pucat
"ada apa dengan ayah bu.." ibu terus saja menangis dan ibu melihatku dengan tatapan yang tak pernah aku lihat
" ayah,.. kenapa? bangunlah ayah,.. ayolah jangan bercanda, aku bukan anak kecil lagi, aku tidak bisa kau tipu"
tangisku pun pecah,..
"nak ayahmu meninggal.."
ohh tuhan,.. inikah yang engkau beri kepadaku, ayah meninggal. aku tak tahu aku bingung aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.
$$$$$$$$$$$$$$$$$$$
satu tahun kemudian keadaan yang masih sama, bahkan tak ada perubahan sedikitpun. minggu depan aku akan ujian akhir, aku akan lulus tingkat menengah atas. aku terus bekerja keras membanting tulang. sebenarnya aku tak pernah mendapat beasiswa sudah dua kali aku hampir di keluarkan dari sekolah karena aku telat membayar uang spp. aku sering bohong dengan ayah dan ibu, aku selalu pulang malam karena aku bekerja.
kini tubuhku tak semuda umurku, aku tak tahu mungkin inilah jalan yang tuhan beri padaku. aku tak pernah berniat putus sekolah karena ayah dan ibu selalu berpesan " belajarlah selagi engkau masih bernyawa, tak ada masa tua untuk mengejar ilmu, tetap kau harus ingat bukan hanya ilmu fisika tetapi ilmu fiqih pun harus kau ketahui" itulah pesan mereka yang selalu aku ingat.
keadaan ibu kini semakin sekarat,.. sakit-sakitan. aku sedih aku ingin menangis. tetapi aku harus sekuat baja,
setiap malam ibu selalu batuk-batuk tetapi malam itu batuk ibu berbeda, ibu sesak nafas. aku tak tega melihat ibu.
hari sudah malam kendaraan sudah tak ada lagi. aku gendong ibu, untuk aku bawa kerumah sakit. sungguh tak lagi aku rasa apa,. di pertengahan jalan hujan lebat. kamipun berteduh.
"nak,.. maafkan ibu telah menyusahkanmu"
"tidak apa-apa bu,..."
ku baringkan ibu di depan kios dengan ber alas kardus, karena ibu tak sanggup berdiri ataupun duduk. ibu tertidur..
"ibu,.. begitu berat cobaan mu ibu, dulu ketika aku kecil, aku selalu menyusahkanmu, tetapi aku tidak pernah meminta maaf padamu, ibu baru aku rasakan susahmu, dulu kau mengandungku lebih dari 9 bulan lamanya, kau tak pernah mengeluh, kau menyambutku dengan senyum meski aku hampir menghilangkan nyawamu ketika kau melahirkanku, ibu kini aku merasa lelah ketika aku mengendongmu, sungguh ibu aku adalah anak tak tahu diri, aku tak bisa menjaga amanah ayah untuk menjadi anak berbakti bu, maafkan aku"
zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz
"anakku bangunlah nak,.. ini ayah"
"ayah,.. kapan kau datang, aku sangat merindukanmu ayah" aku peluk ayah sekencang-kencangnya
"anakku yudhi,.. ayah ingin menjemput ibumu, ayah dan ibu akan pergi"
"tidak ayah... sungguh aku tak pernah mengharapkan ibu pergi... dan kau tau aku selalu mengharapkan engkau datang"
"anakku,... maafkan ibumu nak, ibu akan ikut ayahmu, ibu tak mau menyusahkanmu, kelak kau akan bertemu kami lagi"
"selamat tinggal anakku"
" ayah.... ibuuuuu"
oah.. hanya mimpi,.. ternyata itu semua hanya mimpi." ibu bangun kita kan kerumah sakit bu". tubuh ibu sangat dingin, wajahnya pucat.
"ibu.. jangan tinggalkan aku" aku gendong ibu aku tak jadi membawanya kerumah sakit. tubuh ibu begitu dingin. sedingin es.
aku tak pernah mengharapkan semua ini menjadi yatim dan piatu.
aku terus menangis diatas pemakaman ayah dan ibu yang berdampingan. aku tak tahu apa yang harus aku lakukan berhari-hari aku dikuburan ayah dan ibu, tidur di tengah-tengah pemakaman ibu aku ingin merasakan kembali kehangatan itu.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@
yudhi kini telah meninggal dunia, ia ditemukan meninggal ditengah-tengah pemakaman ayah dan ibunya. ia meninggal di usia 18 tahun, ia tak sempat menyelesaikan sekolah.
kawan,... cintailah ibumu ibumu ibumu ayahmu..... tak ada yang kekal didunia ini, tuhan akan mencabut nyawa seseorang dengan waktu yang telah ditentukan namun kita tak tahu kapan waktu itu akan datang. maka jagalah ibu dan ayahmu selagi ia masih ada,.. yudhi kisahnya memang tak nyata, namun kuharap engkau bisa mengambil hikmahnya.
terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar